Rabu, 31 Mei 2017

ONTOLOGI



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Ontologi merupakan salah satu kajian filsafat. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret.Ontologi membahas realitas atau suatu entitas dengan apa adanya. Pembahasan mengenai ontologi berarti membahas kebenaran suatu fakta. Untuk mendapatkan kebenaran itu, ontologi memerlukan proses bagaimana realitas tersebut dapat diakui kebenarannya. Untuk itu proses tersebut memerlukan dasar pola berfikir, dan pola berfikir didasarkan pada bagaimana ilmu pengetahuan digunakan sebagai dasar pembahasanrealitas.[1]
Ilmu merupakan kegiatan untuk mencari suatu pengetahuan dengan jalan melakukan pengamatan atau pun penelitian, kemudian peneliti atau pengamat tersebut berusaha membuat penjelasan mengenai hasil pengamatan atau penelitiannya tersebut. Dengan demikian, ilmu merupakan suatu kegiatan yang sifatnya operasional. Jadi terdapat runtut yang jelas dari mana suatu ilmu pengetahuan berasal.Karena sifat yang operasional tersebut, ilmu pengetahuan tidak dapat menempatkan diri dengan mengambil bagian dalam pengkajiannya.[2]
1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas timbul permasalahan yang perlu dibahas dalam makalah ini, sebagaimana berikut :
1.      Bagaimanakah ontologi sain ?
2.      Apa  sejarah ontologi?
3.      Apa pengertian ontologi?
4.      Bagaimana kedudukan ontologi?
5.      Apa pandangan dalam ontologi ilmu?
6.      Bagaiman  aliran-aliran ontologi?
1.3 Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui bagaimana ontologi sain
2.       Untuk mengetahui apa  sejarah ontologi
3.      Untuk memahami apa pengertian ontologi
4.      Untuk mengetahui  bagaimana kedudukan ontologi
5.      Untuk mengetahui apa pandangan- pandangan dalam ontologi ilmu
6.      Untuk mengetahui bagaimana  aliran-aliran ontologi.



















BAB II
PEMBAHASAN

2.1   ONTOLOGI SAIN
A.    Hakikat pengetahuan sain
            Pengetahuan sain adalah pengetahuan rasional empiris. Masalah rasional empiris inilah yang dibahas berikut ini. Pertama, masalah rasional.
Saya  berjalan dikampung. Banyak hal yang menarik perhatian saya dikampung-kampung itu, satu diantaranya ialah orang-orang dikampung yang satu sehat-sehat, sedangkam dikampung yang lain banyak yang sakit. Ada apa ya? Demikian pertanyaan dalam hati saya.
Kebetulan saya mengetahui bahwa penduduk kampung yang satu memelihara ayam dan mereka memakan telurnya, sedangkan kampung yang lain tadi juga memelihara ayam tetapi tidak memakan telurnya, mereka menjual telurnya. Berdasarkan kenyataan itu saya menduga, kampung yang satu itu penduduknya sehat-sehat dan kampung yang lain itu banyak yang sakit-sakit karena tidak makan telur.
Berdasarkan ini saya menarik hipotesis, hipotesis harus berdasarkan rasio, dengan kata lain hipotesis harus rasional. Dalam hal hipotesis yang saya ajukan itu rasionalnya ialah: utuk sehat diperlukan gizi, telur banyak mengandung gizi, karena itu logis bila semakin banyak makan telur akan semakin sehat.
Kedua, masalah empiris. Hipotesis saya itu saya uji (kebenaranya) mengikuti prosedur metode ilmiah. Untuk menguji hipotesis saya  gunakan metode  eksperimen dengan cara mengambil satu atau dua kampung yang disuruh makan telur secara teratur selama setahun sebagai kelompok eksperimen, dan mangambil satu atau dua kampung yang lain yang tidak boleh  makan telur. Hasilnya, kampung yang makan telur rata-rata lebih sehat.
Sekarang, hipotesis saya  semakin banyak makan telur akan semakin sehat  atau telur berpengaruh positif terhadap kesehatan terbukti. Teori saya “Semakin banyak makan telur akan menjadi sehat” atau “Telur berpengaruh positif terhadap kesehatan,” adalah teori yang rasional empiris. Teori seperti inilah yang disebut teori ilmiah (scientific theory).
            Cara kerja saya dalam memperoleh teori itu tadi adalah cara kerja metode ilmiah. Rumus baku metode ilmiah ialah: logica-hypothetico- verificatif
( buktikan bahwa itu logis, tarik hipotesi, ajukan bukti empiris). Logico dalam rumusan itu adalah logis dalam arti rasional.
Pada dasarnya cara kerja sain adalah kerja mencari hubungan sebab-akibat atau mencari pengaruh  sesuatu terhadap yang lain. Asumsi dasar sains ialah tidak ada kejadian tanpa sebab.
B. Struktur sains
Dalam garis besarnya sain dibagi dua, yaitu sain kealaman  dan sain sosial. Nama ilmu banyak sekali, berikut ditulis beberapa saja diantaranya:
a.      Sain kelaman
·         Astronomi
·         Fisika         : mekanik, bunyi cahaya dan optik
·         Kimia        : kimia organik dan kimia teknik
·         Ilmu bumi  : ekologi,  geofisika, dan lain-lain
·         Ilmu hayat : biofisika, botani dan zoologi
B.     Sain sosial
·         Sosiologi               : sosiologi komunikasi, sosilogi politik, dan
  sosiologi pendidikan
·         Antropologi           : antropologi budaya,  antropologi ekonomi,
  dan antropologi politik
·         Psikologi               : psikologi pendidikan, psikologi anak,
  psikologi abnormal. 
·         Ekonomi                : ekonomi makro, ekonomi lingkungan,
  ekonomi pedesaan
·         Polotik                   : politik dalam negri, politik hukum, politik
  internasional.

C.    Humaniora
·         Seni           : Seni abstrak, seni grafika, seni pahat dan seni tari        
·          Hukum     : Hukum pidana, hukum tata usaha negara dan lain-
                   lain
·         Filsafat      : Logika, etika dan estetika
·         Bahasa       : Sastra
·         Agama       : Islam, Kristen dan confusius
·         Sejarah      : Sejarah indonesia dan sejarah dunia [3]

2.2   SEJARAH ONTOLOGI
Pembahasan tetang hakekat keberadaan segala sesuatu adalah yang paling hakiki dan paling awal, dan dikenal sebagai ontologi. Thales (624-547) adalah filsuf  Yunani yang paling awal. Menurutnya semua  benda itu berasal dari air, yang kenyataanya memang terdapat di mana-mana, dan air dikatakan sebagai substansi yang paling hakiki yang menyusun segala benda di alam.[4]
Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal mula alam pikiran yunani telah menunjukan munculnya perenungan dibidang ontologi.
Dalam persoalan ontologi orang menghadapi persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini? Pertama kali orang yang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan. Yang pertama, kenyataan yang berupa materi (kebenaran) dan kedua, kenyataan yang berupa rohani (kejiwaan). [5]



2.3   PENGERTIAN ONTOLOGI
Secara etimologis ontologi berasal dari onto yang berarti organ  dan logos yang berarti perbincangan atau pemikiran. Jadi, metafisika umum atau ontologi  mempersolkan adanya segala sesuatu yang ada.[6]
Ontologi berasal dari kata Yunani on (ada), dan ontos berarti keberadaan. Sedangkan logos berarti pemikiran. Jadi ontologi adalah pemikiran mengenai yang ada dan keberadaanya.
Adapun yang dimaksud dengan ontologi adalah kajian yang memusatkan diri pada pemecahan esensi sesuatu atau wujud, tentang asas-asasnya dan relalitas. Asas-asas tentang sesuatu wujud yang nyata. Keberadaan dan realitasnya dapat dicermati dan ditangkap oleh panca indra manusia. Dengan demikian, ontologi adalah telaah secara filsafat yang ingin menjawab objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan objek tersebut dengan daya tangkap manusia ( seperti berfikir, merasa, dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan?
Dikemukakan, bahwa ontologi menyelidiki hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata yang sangat terbatas bagi panca indra kita. Bagaimana realita yang ada ini, adalah materi semata, apakah wujudnya bersifat tetap, kekal tanpa perubahan? Juga apakah realita itu juga terbentuk dari satu unsur (monisme), dua unsur (dualisme), atau banyak unsur ( pluralisme). Dengan demikian, alam semesta ini sebagai sebuah realita apakah juga berhakikat monistik dan pluralistik, bersifat tetap atau berubah-ubah. Juga apakah alam semsta ini merupakan kesungguhan ( actual) atau kemungkinan (potency).
Ontologi membatasi diri pada ruang kajian keilmuan yang dapat dipikirkan manusia secara rasional yang bisa diamati oleh panca indra manusia. Manakala ruang kajian ontologi tidak semata-mata dihubungkan dengan pancaindra manusia, melainkan juga pikiran (rasio), maka objek telaahnya tidak terbatas pada “wujud” materi semata. Tidak hanya objek yang bersifat fisik materi, tapi juga mencakup objek yang metafisik (metafisika).
Ada beberapa pertanyaan dalam kajian ontologi adalah:
a.       Apakah yang dimaksud dengan ada, keberadaan, dan eksistensi itu?
b.      Bagaimana penggolongan dari ada,keberadaan, dan eksistensi itu?
c.       Apa sifat dasar (nature) kenyataan atau keberadaan ?
Jelasnya secara ontologi objek ilmu pengetahuan adalah berupa wujud, fakta, gejala, ataupun peristiwa yang dapat diindera maupun dipikirkan manusia.[7]
Objek telaah ontologi adalah yang ada tidak terikat pada sutu perwujudan tertentu, ontologi membahas tentang yang ada secara universal, yaitu berusaha mencari inti yang dimuat secara kenyataan yang meliputi segala realitas dalam semua bentuknya.
Jadi yang menjadi landasan dalam tatanan ontologi ini adalah apa objek yang di telaah, bagaimana pula hubungan objek tersebut dengan daya pikir dan penangkapan manusia.[8]

2.4   KEDUDUKAN ONTOLOGI
Ontologi ini merupakan ilmu pengetahuan yang paling universal dan paling menyeluruh. Penyelidikannya meliputi segala pertanyaan dan penelitian lainnya yang lebih bersifat bagian. Ia merupakan konteks untuk semua konteks lainnya, cakrawala yang merangkum semua cakrawala lainya, pendirian yang meliputi segala pendirian lainnya. Oleh karena sifat englobant (Marcel) atau umgreifend (Jaspers) itu, maka ontologi bercorak total, dan dari sebab itu juga berciri paling konkret. Ontologi meneliti pengada sekadar pengada. Sedangkan mengada itu merupakan sekaligus hal yang paling terkenal, dan hal yang paling sukar dieksplisitasikan.



2.5   PANDANGAN DALAM ONTOLOGI ILMU
Persoalan dalam keberadaan menurut Ali Mudhofir (1996) ada tiga pandangan, yaitu:
a.      Keberadaan di pandang dari segi jumlah (kuantitas)
artinya berapa banyak kenyataan yang paling dalam. Pandangan ini melahirkan beberapa aliran filsafat sebagai jawabannya yaitu:
a.       Monoisme
 aliran yang menyatakan bahwa ada satu kenyataan pundamental.
b.      Dualisme
 aliran yang menganggap adanya dua substansi yang masing-masing berdiri sendiri.
c.       Pluralisme:
aliran yang tidak mengakui adanya satu substansi atau dua substansi melainkan banyak substansi.
b.      Keberadaan di pandang dari segi sifat kualitas
yaitu menimbulkan beberapa aliran sebagai berikut:
a.       Spiritualisme
Mengandung arti antara lain yaitu ajaran yang menyatakan bahwa kenyataan yang terdalam adalah roh.
b.      Materialisme
Pandangan yang menyatakan bahwa tidak ada sesuatu yang nyata kecuali materi.
c.       Keberadaan di pandang dari segi proses kejadian atau perubahan
Aliran yang berusaha menjawab persoalan ini adalah:
a.       Mekanisme
Menyatakan bahwa semua gejala dapat dijelaskan berdasarkan asas-asas mekanik atau mesin.
b.      TeleologiBerpendirian bahwa yang berlaku dalam kejadian alam bukanlah kaidah sebab akibat, akan tetapi sejak semula memang ada sesuatu kemauan atau kekuatan yang mengarahkan alam sesuatu tujuan.
c.       Vitalisme
Memandang sepenuhnya bahwa kehidupan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan secara fisika-kimiawi, karena hakikatnya berbeda dengan yang tidak hidup.[9]

2.6   ALIRAN-ALIRAN ONTOLOGI  
Beberapa aliran ontologi yang berupaya menjelaskan hakikat realitas antara lain:
a.      Mononisme
Istilah mononisme berasal dari bahasa yunani monos yang berarti tunggal atau sendiri. Terdapat beberapa pengertian tentang mononisme: 1) teori yang mengatakan dalam segala hal dalam alam semesta dapat dijabarkan pada (atau dijelaskan dalam kerangka) kegiatan unsur-unsur dasariah. Misalnya, Allah, materi, pikiran, energi, bentuk. 2) segala hal berdasar dari satu sumber terakhir tunggal. 3). Keyakinan bahwa realitas adalah satu dan segala sesuatu lainya adalah ilusi;  dan 4) Ajaran yang mempertahankan bahwa dasar pokok seluruh eksitensi adalah satu sumber.
Secara historis, monisme pertama kali digulirkan oleh Parminides, filsuf Yunani abad ke-6 SM. Parmindes menganggap pancaindra kita bersifat menipu dan berbagai bentuk benda indrawi yang kita saksikan sejatinya hanya ilusi, “The only being,” kata Parmenides, is the one, which infinite and invisible, “ Satu-satunya eksitensi yang sejati adalah ‘Yang Tunggal’, yakni yang tak terbatas dan tak berbagi-bagi.”

b.      Dualisme
Istilah dualisme berasal dari bahasa latin, dualis yang berarti bersifat dua. Dualisme berpandangan bahwa ada dua substansi dalam kehidupan ini. Pertama, dualisme pada umumnya, berbeda dengan mononisme, mempertahankan perbedaan-perbedaan mendasar yang ada dalam realitas antara eksitensi yang kontingen dan eksitensi yang absolut (dunia Alah), antara yang mengetahui dan yang ada dalam bidang kontingen, antara materi dan roh (atau antara materi dan kehidupan yang terikat pada materi), antara substansi dan aksiden, dan sebagainya.
Kedua, dualisme merupakan pandangan filosofis yang menegaskan eksitensi dari dua bidang (dunia) yang terpisah tidak dapat direduksi, unik. Contoh: Adikodrati/Kodrati. Allah/ Alam semesta. Roh/ Jiwa.
c.       Pluaralisme
Istilah pluralisme berakar pada kata dalam bahasa latin pluralis yang berarti jamak atau plural. Aliran pluralisme secara umum dicirikan oleh keyakinan-keyakinan berikut:  Pertama, realitas fundamental bersifat jamak. Kedua, ada banyak tigkatan hal-hal dalam alam semesta yang terpisah, yang tidak dapat direduksi, dan pada dirinya independen. Ketiga, alam semesta pada dasarnya tidak tertentukan dalam bentuk; tidak memiliki kesatuan atau kontinuitas harmonis yang mendasar, tidak ada tatanan koheren dan rasional fundamental.
d.      Materialisme
Materialisme memiliki  sejumlah pengertian berikut:
Pertama, pada satu kutub ekstrem, materialisme merupakan keyakinan bahwa tidak ada sesuatu selain materi yang sedang bergerak. Pikiran (roh, kesadaran, jiwa) tidak lain adalah materi yang sedang bergerak. Pada kutub ekstrem lainya, materialisme merupakan keyakinan bahwa pikiran sungguh-sungguh ada, tetapi disebabkan oleh perubahan-perubahan materil dan sama sekali tergantung pada materi.
 Kedua, materi dan alam semesta sama sekali tidak memiliki karakteristik- karakteristik pikiran seperti: maksud, kesadaran, intensi, tujuan-tujuan, arti, arah, inteligensi, kehendak dan dorongan.
Ketiga, setiap perubahan (peristiwa, aktivitas) mempunyai sebab-sebab material, dan penjelasan materil tentang gejala-gejala merupakan satu-satunya penjelasan yang tepat .
Keempat, bentuk material dari barang-barang dapat diubah, dan materi itu sendiri mungkin ada dalam dimensi yang beragam dan rumit, tetapi materi tidak dapat diciptakan atau dibinasakan.
e.       Idealisme
Istilah idealisme berasal dari kata “idea”  yaiu sesuatu yang hadir dalam jiwa.
Secara sederhana, idealisme hendak menyatakan bahwa realitas terdiri atas ide-ide, pikiran-pikiran, akal (mind) adalah fenomena yang menyertainya, maka idealisme mengatakn bahwa akal itulah yang rill dan materi adalah produk sampingan.
            Idealisme adalah sudut pandangan dunia atau metafsika yang mengatakan bahwa realitas dasar terdiri atas, atau sangat erat hubungannya dengan ide, pikiran, atau jiwa.
f.       Nihilisme
Istilah nihilisme berasal dari bahasa Latin yang secara harfiah berarti tidak ada
Atau ketiadaan. Pengertian nihilisme dapat dirinci dalam beberapa poin berikut ini:
1)      Peyangkalan mutlak. Dalam konteks ini nihilisme berarti titik pandang yanag menolak ideal positif mana pun.
2)      Dalam epistemologi, penyangkalan terhadap setiap dasar kebenaran yang objektif dan real
3)      Teori bahwa tidak ada yang diketahui. Semua pengetahuan adalah ilusi, tidak bermanfaat, tidak berarti, relatif (nisbi) dan tidaak bermakna.
4)      Tidak ada pengetahuan yang mungkin
5)      Keadaan psikologis dan filosofis dimana tidak ada nilai etis, religius, politis dan sosial.
6)      Penyangkalan spektis terhadap semua yang dianggap sebagai real/ tidak real, pengetahuan/keliruan, ada/tiada, ilusi/nonilusi; penyangkalan terhadap nilai dari semua perbedaan.
g.      Agnotisisme
Istilah agnotisisme berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dari dua kata yaitu a yang berarti ‘bukan’, ‘tidak’, dan gnostikos yang berarti ‘ orang yang mengetahui atau mempunyai pengetahuan tentang’. Secara global terdapat beberapa pengertian mengenai agnotisisme, yaitu:
1)      Keyakinan bahwa kita tidak dapat memiliki pengetahuan tentang Tuhan. Atau keyakinan bahwa mustahil untuk membuktikan ada atau tidak adanya Tuhan
2)      Kadang-kadang digunakan untuk menuju pada penangguhan putusan tentang beberapa jenis pengetahuan. Misalnya pengetahuan tentang jiwa, kebakaan, roh-roh, neraka, kehidupan di luar bumi
3)      Keyakinan atau tidak kemampuan untuk memahami atau memperoleh pengertian, terutama pengertian Tuhan dan tentang asas-asas pokok agama dan filsafat.
4)      Ajaran yang secara keseluruhan atau sebagian menyangkal kemungkinan untuk mengetahui Alam Semesta.
Dari berbagai pengertian diatas, secara umum agnotisisme palinhg tidak dalam dua wacana besar. Pertama,paham yang berhubungan dengan wacana ketuhanan. Kedua, paham yang berhubungan dengan realitas segala sesuatu.

6.7  Eksistensi Tuhan ( Mistisime)
Salah satu realitas fundamental yang diperbincangkan dalam wacana mistisisme adalah eksistensi Tuhan sebagai realitas tertinggi yang menjadi sumber bagi eksistensi segala sesuatu.[10]








BAB III
PENUTUP

a.      Kesimpulan  

Pengetahuan sain adalah pengetahuan rasional empiris. Dalam garis besarnya sain dibagi dua, yaitu sain kealaman  dan sain sosial. Pembahasan tetang hakekat keberadaan segala sesuatu adalah yang paling hakiki dan paling awal, dan dikenal sebagai ontologi. Thales (624-547) adalah filsuf  Yunani yang paling awal. Menurutnya semua  benda itu berasal dari air, yang kenyataanya memang terdapat di mana-mana, dan air dikatakan sebagai substansi yang paling hakiki yang menyusun segala benda di alam. Kemudian,  dengan ontologi adalah kajian yang memusatkan diri pada pemecahan esensi sesuatu atau wujud, tentang asas-asasnya dan relalitas. Asas-asas tentang sesuatu wujud yang nyata. Keberadaan dan realitasnya dapat dicermati dan ditangkap oleh panca indra manusia. Ontologi ini merupakan ilmu pengetahuan yang paling universal dan paling menyeluruh. Penyelidikannya meliputi segala pertanyaan dan penelitian lainnya yang lebih bersifat bagian.










DAFTAR PUSTAKA

Abraham. Ontologi. https://abraham4544.wordpress.com/umum/ontologi/. Diakses 27 maret 2017

Ahmad Tafsir.2012.  Filsafat ilmu mengurai ontologi, epistemologi dan aksiologi penegtahuan, Bandung: Raja Grafindo.

Akhadiah, Sabararti dan Listyasari, Dewi. 2011. Filsafat Ilmu Lanjutan, Jakarta: Prenada Media Group

Amsal Bakhtiar.2012.  FILSAFAT ILMU, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Inu Kencana Syafiie. 2004. Pengantar Filsafat, Refika aditama.
Jalaludin. 2013 .FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN filsafat, ilmu penegtahuan, dan peradaban,  Jakarta: raja grafindo.

Louis o. Kattsoff. 2004. Pengantar FILSAFAT.
Peter Soedojo. 2004. Pengantar SEJARAH DAN FILSAFAT ILMU PENEGTAHUAN ALAM, Gadjah Mada University.

Sutardjo A. Wiramihardja. 2009. Pengantar Filsafat, Refika Aditama.
Zaprulkhan. 2015. FILSAFAT ILMU sebuah analisis kontemporer, Jakarta: Raja Grafindo persada.



[1] Louis o. Kattsoff, pengantar FILSAFAT, 2004. Hal: 185-186
[2] https://abraham4544.wordpress.com/umum/ontologi/
[3] PROF. Dr. Ahmad tafsir, FILSAFAT ILMU mengurai ontologi,epistemologi dan aksiologi pengetahuan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), hlm.22-26
[4] Peter Soedojo, Pengantar SEJARAH DAN FILSAFAT ILMU PENEGTAHUAN ALAM, (Gadjah Mada University, 2004) hlm.51
[5] PROF. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A, FILSAFAT ILMU ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), hlm.131
[6] Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja, Psi,  Pengantar Filsafat,( Refika Aditama,2009) hlm.

[7] PROF. Dr. H. Jalaludin, FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN filsafat, ilmu penegtahuan, dan peradaban ( Jakarta: raja grafindo, 2013) hlm. 163-165
[8] (Inu Kencana Syafiie,Pengantar Filsafat, (Refika aditama,2004), hal 9-10

[9] Akhadiah, Sabararti dan Listyasari, Dewi, Filsafat Ilmu Lanjutan, (Jakarta: Prenada Media Group,2011)
[10] Dr. Zaprulkhan, S.Sos.I, M.S.I, FILSAFAT ILMU sebuah analisis kontemporer,( Jakarta: Raja Grafindo persada, 2015) hal 48-62


Tidak ada komentar:

Posting Komentar