BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ontologi merupakan salah satu kajian filsafat. Studi
tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret.Ontologi membahas
realitas atau suatu entitas dengan apa adanya. Pembahasan mengenai ontologi
berarti membahas kebenaran suatu fakta. Untuk mendapatkan kebenaran itu,
ontologi memerlukan proses bagaimana realitas tersebut dapat diakui
kebenarannya. Untuk itu proses tersebut memerlukan dasar pola berfikir, dan
pola berfikir didasarkan pada bagaimana ilmu pengetahuan digunakan sebagai
dasar pembahasanrealitas.[1]
Ilmu merupakan kegiatan untuk mencari suatu pengetahuan
dengan jalan melakukan pengamatan atau pun penelitian, kemudian peneliti atau
pengamat tersebut berusaha membuat penjelasan mengenai hasil pengamatan atau
penelitiannya tersebut. Dengan demikian, ilmu merupakan suatu kegiatan yang
sifatnya operasional. Jadi terdapat runtut yang jelas dari mana suatu ilmu
pengetahuan berasal.Karena sifat yang operasional tersebut, ilmu pengetahuan
tidak dapat menempatkan diri dengan mengambil bagian dalam pengkajiannya.[2]
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas timbul
permasalahan yang perlu dibahas dalam makalah ini, sebagaimana berikut :
1.
Bagaimanakah ontologi sain ?
2.
Apa sejarah
ontologi?
3.
Apa pengertian ontologi?
4.
Bagaimana kedudukan ontologi?
5.
Apa pandangan dalam ontologi ilmu?
6.
Bagaiman
aliran-aliran ontologi?
1.3 Tujuan Masalah
1.
Untuk mengetahui bagaimana ontologi sain
2.
Untuk mengetahui
apa sejarah ontologi
3.
Untuk memahami apa pengertian ontologi
4.
Untuk mengetahui
bagaimana kedudukan ontologi
5.
Untuk mengetahui apa pandangan- pandangan dalam ontologi
ilmu
6.
Untuk mengetahui bagaimana aliran-aliran ontologi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 ONTOLOGI SAIN
A. Hakikat pengetahuan sain
Pengetahuan sain adalah
pengetahuan rasional empiris. Masalah rasional empiris inilah yang dibahas
berikut ini. Pertama, masalah rasional.
Saya berjalan dikampung. Banyak hal yang
menarik perhatian saya dikampung-kampung itu, satu diantaranya ialah orang-orang
dikampung yang satu sehat-sehat, sedangkam dikampung yang lain banyak yang
sakit. Ada apa ya? Demikian pertanyaan dalam hati saya.
Kebetulan saya mengetahui bahwa
penduduk kampung yang satu memelihara ayam dan mereka memakan telurnya,
sedangkan kampung yang lain tadi juga memelihara ayam tetapi tidak memakan
telurnya, mereka menjual telurnya. Berdasarkan kenyataan itu saya menduga,
kampung yang satu itu penduduknya sehat-sehat dan kampung yang lain itu banyak
yang sakit-sakit karena tidak makan telur.
Berdasarkan ini saya menarik hipotesis,
hipotesis harus berdasarkan rasio, dengan kata lain hipotesis harus rasional.
Dalam hal hipotesis yang saya ajukan itu rasionalnya ialah: utuk sehat
diperlukan gizi, telur banyak mengandung gizi, karena itu logis bila semakin
banyak makan telur akan semakin sehat.
Kedua, masalah empiris. Hipotesis saya itu
saya uji (kebenaranya) mengikuti prosedur metode ilmiah. Untuk menguji
hipotesis saya gunakan metode eksperimen dengan cara mengambil satu atau
dua kampung yang disuruh makan telur secara teratur selama setahun sebagai
kelompok eksperimen, dan mangambil satu atau dua kampung yang lain yang tidak
boleh makan telur. Hasilnya, kampung
yang makan telur rata-rata lebih sehat.
Sekarang, hipotesis saya semakin banyak makan telur akan semakin
sehat atau telur berpengaruh positif
terhadap kesehatan terbukti. Teori saya “Semakin banyak makan telur akan
menjadi sehat” atau “Telur berpengaruh positif terhadap kesehatan,” adalah
teori yang rasional empiris. Teori seperti inilah yang disebut teori ilmiah (scientific
theory).
Cara kerja saya dalam
memperoleh teori itu tadi adalah cara kerja metode ilmiah. Rumus baku metode
ilmiah ialah: logica-hypothetico- verificatif
( buktikan bahwa itu logis, tarik hipotesi, ajukan bukti empiris). Logico
dalam rumusan itu adalah logis dalam arti rasional.
Pada dasarnya cara kerja sain adalah
kerja mencari hubungan sebab-akibat atau mencari pengaruh sesuatu terhadap yang lain. Asumsi dasar
sains ialah tidak ada kejadian tanpa sebab.
B. Struktur sains
Dalam garis besarnya sain dibagi dua,
yaitu sain kealaman dan sain sosial.
Nama ilmu banyak sekali, berikut ditulis beberapa saja diantaranya:
a. Sain kelaman
·
Astronomi
·
Fisika :
mekanik, bunyi cahaya dan optik
·
Kimia :
kimia organik dan kimia teknik
·
Ilmu bumi : ekologi, geofisika, dan
lain-lain
·
Ilmu hayat : biofisika, botani dan zoologi
B. Sain sosial
·
Sosiologi : sosiologi komunikasi, sosilogi politik,
dan
sosiologi pendidikan
·
Antropologi : antropologi budaya, antropologi ekonomi,
dan antropologi politik
·
Psikologi : psikologi pendidikan, psikologi anak,
psikologi abnormal.
·
Ekonomi : ekonomi makro, ekonomi lingkungan,
ekonomi pedesaan
·
Polotik : politik dalam negri, politik hukum,
politik
internasional.
C. Humaniora
·
Seni :
Seni abstrak, seni grafika, seni pahat dan seni tari
·
Hukum :
Hukum pidana, hukum tata usaha negara dan lain-
lain
·
Filsafat : Logika, etika dan estetika
·
Bahasa :
Sastra
·
Agama :
Islam, Kristen dan confusius
·
Sejarah :
Sejarah indonesia dan sejarah dunia [3]
2.2 SEJARAH ONTOLOGI
Pembahasan tetang hakekat keberadaan
segala sesuatu adalah yang paling hakiki dan paling awal, dan dikenal sebagai
ontologi. Thales (624-547) adalah filsuf
Yunani yang paling awal. Menurutnya semua benda itu berasal dari air, yang kenyataanya
memang terdapat di mana-mana, dan air dikatakan sebagai substansi yang paling
hakiki yang menyusun segala benda di alam.[4]
Ontologi merupakan salah satu diantara
lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal mula alam pikiran
yunani telah menunjukan munculnya perenungan dibidang ontologi.
Dalam persoalan ontologi orang
menghadapi persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada
ini? Pertama kali orang yang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan. Yang pertama,
kenyataan yang berupa materi (kebenaran) dan kedua, kenyataan yang
berupa rohani (kejiwaan). [5]
2.3 PENGERTIAN ONTOLOGI
Secara etimologis ontologi berasal dari
onto yang berarti organ dan logos
yang berarti perbincangan atau pemikiran. Jadi, metafisika umum atau
ontologi mempersolkan adanya segala
sesuatu yang ada.[6]
Ontologi berasal dari kata Yunani on
(ada), dan ontos berarti keberadaan. Sedangkan logos berarti
pemikiran. Jadi ontologi adalah pemikiran mengenai yang ada dan keberadaanya.
Adapun yang dimaksud dengan ontologi
adalah kajian yang memusatkan diri pada pemecahan esensi sesuatu atau wujud,
tentang asas-asasnya dan relalitas. Asas-asas tentang sesuatu wujud yang nyata.
Keberadaan dan realitasnya dapat dicermati dan ditangkap oleh panca indra
manusia. Dengan demikian, ontologi adalah telaah secara filsafat yang ingin
menjawab objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana wujud hakiki dari objek
tersebut? Bagaimana hubungan objek tersebut dengan daya tangkap manusia (
seperti berfikir, merasa, dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan?
Dikemukakan, bahwa ontologi menyelidiki
hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata yang sangat terbatas bagi panca
indra kita. Bagaimana realita yang ada ini, adalah materi semata, apakah
wujudnya bersifat tetap, kekal tanpa perubahan? Juga apakah realita itu juga
terbentuk dari satu unsur (monisme), dua unsur (dualisme), atau banyak unsur (
pluralisme). Dengan demikian, alam semesta ini sebagai sebuah realita apakah
juga berhakikat monistik dan pluralistik, bersifat tetap atau
berubah-ubah. Juga apakah alam semsta ini merupakan kesungguhan ( actual)
atau kemungkinan (potency).
Ontologi membatasi diri pada ruang
kajian keilmuan yang dapat dipikirkan manusia secara rasional yang bisa diamati
oleh panca indra manusia. Manakala ruang kajian ontologi tidak semata-mata
dihubungkan dengan pancaindra manusia, melainkan juga pikiran (rasio), maka objek
telaahnya tidak terbatas pada “wujud” materi semata. Tidak hanya objek yang
bersifat fisik materi, tapi juga mencakup objek yang metafisik (metafisika).
Ada beberapa pertanyaan dalam kajian
ontologi adalah:
a. Apakah yang dimaksud dengan ada, keberadaan, dan eksistensi itu?
b. Bagaimana penggolongan dari ada,keberadaan, dan eksistensi itu?
c. Apa sifat dasar (nature) kenyataan atau keberadaan ?
Jelasnya secara ontologi objek ilmu
pengetahuan adalah berupa wujud, fakta, gejala, ataupun peristiwa yang dapat diindera
maupun dipikirkan manusia.[7]
Objek telaah ontologi adalah yang ada
tidak terikat pada sutu perwujudan tertentu, ontologi membahas tentang yang ada
secara universal, yaitu berusaha mencari inti yang dimuat secara kenyataan yang
meliputi segala realitas dalam semua bentuknya.
Jadi yang menjadi landasan dalam
tatanan ontologi ini adalah apa objek yang di telaah, bagaimana pula hubungan
objek tersebut dengan daya pikir dan penangkapan manusia.[8]
2.4 KEDUDUKAN ONTOLOGI
Ontologi ini merupakan ilmu pengetahuan
yang paling universal dan paling menyeluruh. Penyelidikannya meliputi segala
pertanyaan dan penelitian lainnya yang lebih bersifat bagian. Ia merupakan
konteks untuk semua konteks lainnya, cakrawala yang merangkum semua cakrawala
lainya, pendirian yang meliputi segala pendirian lainnya. Oleh karena sifat
englobant (Marcel) atau umgreifend (Jaspers) itu, maka ontologi bercorak total,
dan dari sebab itu juga berciri paling konkret. Ontologi meneliti pengada
sekadar pengada. Sedangkan mengada itu merupakan sekaligus hal yang paling
terkenal, dan hal yang paling sukar dieksplisitasikan.
2.5 PANDANGAN DALAM ONTOLOGI ILMU
Persoalan dalam keberadaan menurut Ali
Mudhofir (1996) ada tiga pandangan, yaitu:
a. Keberadaan di pandang dari segi jumlah (kuantitas)
artinya berapa banyak kenyataan yang paling dalam. Pandangan ini melahirkan
beberapa aliran filsafat sebagai jawabannya yaitu:
a. Monoisme
aliran yang menyatakan bahwa ada
satu kenyataan pundamental.
b. Dualisme
aliran yang menganggap adanya dua
substansi yang masing-masing berdiri sendiri.
c. Pluralisme:
aliran yang tidak mengakui adanya satu substansi atau dua substansi
melainkan banyak substansi.
b. Keberadaan di pandang dari segi sifat kualitas
yaitu menimbulkan beberapa aliran sebagai berikut:
a.
Spiritualisme
Mengandung arti antara lain yaitu
ajaran yang menyatakan bahwa kenyataan yang terdalam adalah roh.
b. Materialisme
Pandangan yang menyatakan bahwa tidak
ada sesuatu yang nyata kecuali materi.
c. Keberadaan di pandang dari segi proses kejadian atau perubahan
Aliran yang berusaha menjawab persoalan ini adalah:
a. Mekanisme
Menyatakan bahwa semua gejala dapat dijelaskan berdasarkan asas-asas
mekanik atau mesin.
b. TeleologiBerpendirian bahwa yang berlaku dalam kejadian alam bukanlah
kaidah sebab akibat, akan tetapi sejak semula memang ada sesuatu kemauan atau
kekuatan yang mengarahkan alam sesuatu tujuan.
c. Vitalisme
Memandang sepenuhnya bahwa kehidupan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan
secara fisika-kimiawi, karena hakikatnya berbeda dengan yang tidak hidup.[9]
2.6 ALIRAN-ALIRAN ONTOLOGI
Beberapa aliran ontologi yang berupaya menjelaskan hakikat realitas antara
lain:
a. Mononisme
Istilah mononisme berasal dari bahasa
yunani monos yang berarti tunggal atau sendiri. Terdapat beberapa
pengertian tentang mononisme: 1) teori yang mengatakan dalam segala hal dalam
alam semesta dapat dijabarkan pada (atau dijelaskan dalam kerangka) kegiatan
unsur-unsur dasariah. Misalnya, Allah, materi, pikiran, energi, bentuk. 2)
segala hal berdasar dari satu sumber terakhir tunggal. 3). Keyakinan bahwa
realitas adalah satu dan segala sesuatu lainya adalah ilusi; dan 4) Ajaran yang mempertahankan bahwa dasar
pokok seluruh eksitensi adalah satu sumber.
Secara historis, monisme pertama kali
digulirkan oleh Parminides, filsuf Yunani abad ke-6 SM. Parmindes menganggap
pancaindra kita bersifat menipu dan berbagai bentuk benda indrawi yang kita
saksikan sejatinya hanya ilusi, “The only being,” kata Parmenides, is
the one, which infinite and invisible, “ Satu-satunya eksitensi yang sejati
adalah ‘Yang Tunggal’, yakni yang tak terbatas dan tak berbagi-bagi.”
b. Dualisme
Istilah dualisme berasal dari bahasa
latin, dualis yang berarti bersifat dua. Dualisme berpandangan bahwa ada
dua substansi dalam kehidupan ini. Pertama, dualisme pada umumnya,
berbeda dengan mononisme, mempertahankan perbedaan-perbedaan mendasar yang ada
dalam realitas antara eksitensi yang kontingen dan eksitensi yang absolut
(dunia Alah), antara yang mengetahui dan yang ada dalam bidang kontingen,
antara materi dan roh (atau antara materi dan kehidupan yang terikat pada
materi), antara substansi dan aksiden, dan sebagainya.
Kedua, dualisme merupakan pandangan filosofis
yang menegaskan eksitensi dari dua bidang (dunia) yang terpisah tidak dapat
direduksi, unik. Contoh: Adikodrati/Kodrati. Allah/ Alam semesta. Roh/ Jiwa.
c. Pluaralisme
Istilah pluralisme berakar pada kata
dalam bahasa latin pluralis yang berarti jamak atau plural. Aliran
pluralisme secara umum dicirikan oleh keyakinan-keyakinan berikut: Pertama, realitas fundamental bersifat
jamak. Kedua, ada banyak tigkatan hal-hal dalam alam semesta yang
terpisah, yang tidak dapat direduksi, dan pada dirinya independen. Ketiga,
alam semesta pada dasarnya tidak tertentukan dalam bentuk; tidak memiliki
kesatuan atau kontinuitas harmonis yang mendasar, tidak ada tatanan koheren dan
rasional fundamental.
d. Materialisme
Materialisme memiliki sejumlah pengertian berikut:
Pertama, pada satu kutub ekstrem, materialisme merupakan keyakinan bahwa tidak ada
sesuatu selain materi yang sedang bergerak. Pikiran (roh, kesadaran, jiwa)
tidak lain adalah materi yang sedang bergerak. Pada kutub ekstrem lainya,
materialisme merupakan keyakinan bahwa pikiran sungguh-sungguh ada, tetapi
disebabkan oleh perubahan-perubahan materil dan sama sekali tergantung pada
materi.
Kedua,
materi dan alam semesta sama sekali tidak memiliki karakteristik-
karakteristik pikiran seperti: maksud, kesadaran, intensi, tujuan-tujuan, arti,
arah, inteligensi, kehendak dan dorongan.
Ketiga, setiap perubahan (peristiwa,
aktivitas) mempunyai sebab-sebab material, dan penjelasan materil tentang
gejala-gejala merupakan satu-satunya penjelasan yang tepat .
Keempat, bentuk material dari barang-barang
dapat diubah, dan materi itu sendiri mungkin ada dalam dimensi yang beragam dan
rumit, tetapi materi tidak dapat diciptakan atau dibinasakan.
e. Idealisme
Istilah idealisme berasal dari kata
“idea” yaiu sesuatu yang hadir dalam jiwa.
Secara sederhana, idealisme hendak menyatakan bahwa realitas terdiri atas
ide-ide, pikiran-pikiran, akal (mind) adalah fenomena yang menyertainya, maka
idealisme mengatakn bahwa akal itulah yang rill dan materi adalah produk
sampingan.
Idealisme adalah sudut
pandangan dunia atau metafsika yang mengatakan bahwa realitas dasar terdiri
atas, atau sangat erat hubungannya dengan ide, pikiran, atau jiwa.
f. Nihilisme
Istilah nihilisme berasal dari bahasa
Latin yang secara harfiah berarti tidak ada
Atau ketiadaan. Pengertian nihilisme dapat dirinci dalam beberapa poin
berikut ini:
1) Peyangkalan mutlak. Dalam konteks ini nihilisme berarti titik pandang yanag
menolak ideal positif mana pun.
2) Dalam epistemologi, penyangkalan terhadap setiap dasar kebenaran yang
objektif dan real
3) Teori bahwa tidak ada yang diketahui. Semua pengetahuan adalah ilusi, tidak
bermanfaat, tidak berarti, relatif (nisbi) dan tidaak bermakna.
4) Tidak ada pengetahuan yang mungkin
5) Keadaan psikologis dan filosofis dimana tidak ada nilai etis, religius,
politis dan sosial.
6) Penyangkalan spektis terhadap semua yang dianggap sebagai real/ tidak real,
pengetahuan/keliruan, ada/tiada, ilusi/nonilusi; penyangkalan terhadap nilai
dari semua perbedaan.
g. Agnotisisme
Istilah agnotisisme berasal dari bahasa
yunani yang terdiri dari dari dua kata yaitu a yang berarti ‘bukan’,
‘tidak’, dan gnostikos yang berarti ‘ orang yang mengetahui atau mempunyai
pengetahuan tentang’. Secara global terdapat beberapa pengertian mengenai
agnotisisme, yaitu:
1) Keyakinan bahwa kita tidak dapat memiliki pengetahuan tentang Tuhan. Atau
keyakinan bahwa mustahil untuk membuktikan ada atau tidak adanya Tuhan
2) Kadang-kadang digunakan untuk menuju pada penangguhan putusan tentang
beberapa jenis pengetahuan. Misalnya pengetahuan tentang jiwa, kebakaan,
roh-roh, neraka, kehidupan di luar bumi
3) Keyakinan atau tidak kemampuan untuk memahami atau memperoleh pengertian,
terutama pengertian Tuhan dan tentang asas-asas pokok agama dan filsafat.
4) Ajaran yang secara keseluruhan atau sebagian menyangkal kemungkinan untuk
mengetahui Alam Semesta.
Dari berbagai pengertian diatas, secara
umum agnotisisme palinhg tidak dalam dua wacana besar. Pertama,paham
yang berhubungan dengan wacana ketuhanan. Kedua, paham yang berhubungan
dengan realitas segala sesuatu.
6.7 Eksistensi Tuhan ( Mistisime)
Salah satu realitas fundamental yang
diperbincangkan dalam wacana mistisisme adalah eksistensi Tuhan sebagai
realitas tertinggi yang menjadi sumber bagi eksistensi segala sesuatu.[10]
BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
Pengetahuan sain adalah pengetahuan
rasional empiris. Dalam garis besarnya sain dibagi dua, yaitu sain kealaman dan sain sosial. Pembahasan tetang hakekat
keberadaan segala sesuatu adalah yang paling hakiki dan paling awal, dan
dikenal sebagai ontologi. Thales (624-547) adalah filsuf Yunani yang paling awal. Menurutnya
semua benda itu berasal dari air, yang
kenyataanya memang terdapat di mana-mana, dan air dikatakan sebagai substansi
yang paling hakiki yang menyusun segala benda di alam. Kemudian, dengan ontologi adalah kajian yang memusatkan
diri pada pemecahan esensi sesuatu atau wujud, tentang asas-asasnya dan
relalitas. Asas-asas tentang sesuatu wujud yang nyata. Keberadaan dan
realitasnya dapat dicermati dan ditangkap oleh panca indra manusia. Ontologi
ini merupakan ilmu pengetahuan yang paling universal dan paling menyeluruh.
Penyelidikannya meliputi segala pertanyaan dan penelitian lainnya yang lebih
bersifat bagian.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir.2012. Filsafat ilmu mengurai ontologi,
epistemologi dan aksiologi penegtahuan, Bandung: Raja Grafindo.
Akhadiah, Sabararti dan Listyasari, Dewi. 2011. Filsafat
Ilmu Lanjutan, Jakarta: Prenada Media Group
Amsal Bakhtiar.2012. FILSAFAT
ILMU, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Inu Kencana Syafiie. 2004. Pengantar Filsafat, Refika aditama.
Jalaludin. 2013 .FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN filsafat,
ilmu penegtahuan, dan peradaban,
Jakarta: raja grafindo.
Louis o. Kattsoff. 2004. Pengantar FILSAFAT.
Peter Soedojo. 2004. Pengantar SEJARAH DAN FILSAFAT
ILMU PENEGTAHUAN ALAM, Gadjah Mada University.
Sutardjo A. Wiramihardja. 2009. Pengantar Filsafat, Refika Aditama.
Zaprulkhan. 2015. FILSAFAT ILMU sebuah analisis
kontemporer, Jakarta: Raja Grafindo persada.
[1] Louis o. Kattsoff, pengantar
FILSAFAT, 2004. Hal: 185-186
[2]
https://abraham4544.wordpress.com/umum/ontologi/
[3] PROF. Dr. Ahmad tafsir, FILSAFAT ILMU mengurai
ontologi,epistemologi dan aksiologi pengetahuan (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2012), hlm.22-26
[4] Peter Soedojo, Pengantar SEJARAH DAN FILSAFAT ILMU
PENEGTAHUAN ALAM, (Gadjah Mada University, 2004) hlm.51
[6] Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja, Psi, Pengantar Filsafat,( Refika
Aditama,2009) hlm.
[7] PROF. Dr. H. Jalaludin, FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
filsafat, ilmu penegtahuan, dan peradaban ( Jakarta: raja grafindo, 2013)
hlm. 163-165
[8] (Inu Kencana Syafiie,Pengantar Filsafat, (Refika
aditama,2004), hal 9-10
[9] Akhadiah, Sabararti dan Listyasari, Dewi, Filsafat Ilmu Lanjutan,
(Jakarta: Prenada Media Group,2011)
[10] Dr. Zaprulkhan, S.Sos.I, M.S.I, FILSAFAT ILMU sebuah
analisis kontemporer,( Jakarta: Raja Grafindo persada, 2015) hal 48-62